TEKNOLOGI
DAUR ULANG SKRAP BESI/BAJA: MENYELAMATKAN INDUSTRI BAJA NASIONAL
Perhatian masyarakat dunia terhadap
masalah lingkungan sangat tinggi akhir-akhir ini, dan ditambah lagi dengan
kesepakatan berbagai pemerintah setelah Protokol Kyoto tahun 1997 yang
menghasilkan keputusan untuk mengurangi emisi CO2 di negaranya. Hal di atas
menggesa industri material termasuk industri baja untuk mendaur ulang (recycle)
material yang telah dipakai.
Proses
daur ulang atau penggunaan baja bekas sangat menguntungkan industri baja baik
dari segi ekonomis dan lingkungan. Baja bekas yang menggantikan bijih dan pasir
besi sebagai bahan baku dapat mengurangi energi dan juga emisi CO2 sebesar
1/6-1/3 kali lipat dibanding proses konvensional yang menggunakan bijih dan
pasir besi serta kokas. Kemudian, keuntungan lain yang perlu diperhatikan
adalah pengurangan penggunaan sumber daya alam (SDA) yaitu pasir, bijih besi,
dan kokas yang sangat terbatas.
Akan
tetapi, proses daur ulang baja bekas tidak berjalan sesuai yang diharapkan.
Jumlah baja bekas semakin meningkat, dan di Jepang jumlah ini meningkat sampai
18 juta ton. Padahal, jumlah produksi baja di Jepang lebih kecil dari jumlah di
atas, yaitu sebesar 1 juta ton pertahun. Ini berarti Jepang yang dikenal tidak
mempunyai SDA bijih besi tersimpan bahan baku baja yang dapat digunakan untuk
produksi mereka selama 18 tahun. Bahkan terdapat kecenderungan peningkatan
jumlah baja bekas ini setiap tahunnya. Semua ini disebabkan tercampurnya logam
tembaga pada baja bekas yang berasal dari sampah mobil-mobil.
Dengan semakin meningkatnya kecanggihan teknologi
otomotif seperti sisi otomatisasi, penggunaan tembaga yang tidak dapat
dihindari karena tingginya konduktifitasnya sehingga tembaga ini tercampur
dengan badan mobil yang telah dibuang.
Tembaga yang menjadi campuran logam pada leburan baja
bekas sangat sulit dieliminasi karena tembaga mempunyai sifat kimia yang lebih
mulia daripada baja, sehingga baja akan teroksidasi dalam proses pemurnian.
Permasalahan muncul ketika baja diperlakukan hot-rolling yang bertujuan
membentuk baja sesuai dengan permintaan. Pada suhu tinggi, tembaga berubah
keadaan dari padat menjadi cair dan memasuki batas-batas butir baja, kemudian
memutus ikatan butir baja ketika di-rolling dan akhirnya baja menjadi retak dan
tidak dapat digunakan sebagai material. Ini semua yang mengakibatkan daur ulang
dari baja bekas terhambat yang kemudian menjadi masalah lingkungan. Di dunia
industri baja, tembaga dianggap elemen yang tidak bermanfaat bahkan elemen
perusak dan penghambat daur ulang baja.
Bertentangan dengan hal diatas, profesor Setsuo Takaki
berpendapat lain terhadap tembaga ini. Menurutnya tembaga harus digunakan untuk
meningkatkan sifat mekanika baja sehingga kuantitas daur ulang baja meningkat,
dan jumlah sampah baja yang menjadi masalah lingkungan dapat diatasi. Tembaga
sebagai campuran logam untuk baja mempunyai sisi positif yang sangat besar baik
sisi mekanika, ekonomis serta kimia. Pemanfaatan tembaga sebagai campuran baja
sudah dimulai oleh peneliti seperti Hornbogen dan diikuti oleh ilmuwan lain
dengan banyaknya publikasi tulisan ilmiah tentang campuran baja dengan tembaga.
Produksi dan pengaplikasian baja yang mengandung tembaga ini mulai meningkat
karena teknologi rolling yang semakin tinggi.
Untuk mempromosikan penggunaan tembaga sebagai campuran
baja, pemerintah Jepang melalui institusi NEDO sejak tahun 2001 telah memulai
poyek nasional yaitu NanoMetal. Proyek ini melibatkan universitas-universitas,
lembaga penelitian serta industri baja di Jepang. Penelitian yang dilakukan di
proyek ini sangat luas baik yang bersifat dasar serta teori seperti perilaku
presipitasi tembaga ketika perlakuan panas sampai kearah yang bersifat aplikasi
yaitu peningkatan kekuatan, work-hardening oleh presipitasi tembaga.
Baja banyak dipakai sebagai material konstruksi karena
sifat mekanikanya yang sangat baik yaitu kekuatan dan keuletannya, selain itu
baja juga sangat mudah untuk dibentuk menjadi bermacam-macam bentuk. Baja
mempunyai kekerasan dan kekuatan yang sangat baik dibanding material polimer,
alumunium bahkan titanium. Meskipun demikian, permintaan untuk lebih
meningkatkan kekuatan baja semakin bertambah, karena kecenderungan untuk
menyederhanakan desain bangunan serta pengurangan berat konstruksi.
Biasanya
kekuatan baja ditingkatkan dengan menambah jumlah karbon sebagai campuran
logam, akan tetapi penambahan ini dapat menurunkan sifat plastisnya terutama
keuletan setelah dilas (welding) sehingga baja menjadi getas. Tetapi, masalah
ini dapat teratasi dengan mensubstitusi karbon dengan tembaga meskipun
kekuatannya meningkat. Peningkatan kekuatan ini disebabkan oleh presipitasi
tembaga pada baja. Apabila presipitasi tembaga ini dapat dikontrol maka sifat
mekanika baja dapat ditingkatkan selain upaya peningkatan daur ulang baja
bekas. Inilah target utama dari proyek nasional yang dikoordinasi oleh NEDO.
Industri
otomotif telah melirik campuran baja dengan tembaga ini karena sifatnya yang
sangat lentur sehingga dapat dipress menjadi bermacam-macam bentuk sesuai
dengan desain mobil yang melekuk-lekuk. Setelah dipress, baja itu diperlakukan
panas untuk meningkatkan kekuatan baja dengan presipitasi tembaga.
Bidang
lain juga memanfaatkan campuran logam ini yaitu konstruksi bangunan lepas
pantai. Standar untuk konstruksi ini sangat ketat karena penggunaannya di laut
lepas yang akan merengut jiwa pekerja di sana bila terjadi kecelakaan yang
disebabkan oleh kegagalan desain atau kegagalan material. Sumitomo metals telah
berhasil memproduksi baja berkekuatan di atas 550MPa dengan penguatan oleh
presipitasi tembaga. Baja ini mempunyai kekuatan lebih dari 550MPa meskipun
ketebalannya di atas 75mm. Karena penggunaan tembaga ini, keuletan matrik dan
juga bagian lasnya sangat baik meskipun diuji impact pada suhu kamar ataupun
sekitar -40 derajat celcius yang merupakan suhu di daerah laut utara. Baja ini
ditargetkan akan digunakan untuk material pada konstruksi tambang minyak lepas
pantai di daerah Sakhalin, Rusia.
Industri
baja Jepang yang lain yaitu Nisshin Steel melakukan suatu terobosan baru dalam
produknya yaitu baja tahan karat (stainless steel) yang dapat membunuh bakteri.
Baja ini mendapat perhatian bagi industri elektronik rumah tangga seperti
lemari es, mesin cuci dan industri yang memproduksi peralatan dapur. Dengan
presipitasi tembaga yang dihasilkan melalui perlakuan panas, bakteri-bakteri
yang banyak berkembang biak di mesin cuci mati. Terobosan ini mengundang
perhatian masyarakat Jepang yang terkenal sangat sensitif terhadap kebersihan
dan higienis.
Dari
sini kita dapat melihat bahwa ide dan terobosan baru yang dapat merubah keadaan
sangat diperlukan di bidang logam dan baja sehingga sesuatu yang dianggap
sampah atau tidak berguna dapat menjadi produk yang bermanfaat untuk masyarakat
luas serta lingkungan.
Sumber: http://miftakhulfirdaus.wordpress.com/2009/07/01/teknologi-daur-ulang-skrap-besibaja-menyelamatkan-industri-baja-nasional/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar